Seputar Sulbar, Mamuju – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Barat berhasil mengembalikan 550 Anak Tidak Sekolah (ATS) ke bangku pendidikan. Gerakan ini diluncurkan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional awal Mei lalu.
Kepala Dikbud Sulbar, Nehru Sagena, menyebut pengembalian 550 ATS dari berbagai wilayah dan jenjang pendidikan menjadi momentum awal untuk menggalang keterlibatan semua pihak dalam menyelamatkan generasi Sulbar.
“Mengembalikan anak ke sekolah baru langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan mereka bertahan. Karena itu kami menyiapkan mekanisme pendampingan bersama komunitas relawan dan organisasi kepemudaan,” ujar Nehru dalam pertemuan daring bersama para relawan belum lama ini.
Pendampingan dilakukan melalui kunjungan ke sekolah, konseling, serta diskusi dengan guru dan orang tua. Dikbud Sulbar juga menyiapkan upaya preventif berupa posko pengaduan ATS di Kecamatan Tapango, Polman, serta hotline berbasis WhatsApp dan website.
Pemprov Sulbar mendorong desa berperan aktif dalam mewujudkan wajib belajar 13 tahun. Sistem peringatan dini di tingkat desa disiapkan untuk mendeteksi anak yang rawan putus sekolah sejak awal.
Nehru menekankan, gerakan ini bersifat sosial, bukan proyek berbasis anggaran. Karena itu ia mengajak komunitas relawan, organisasi pemuda, dan kampus untuk berkolaborasi sesuai bidang masing-masing.
Ajakan itu mendapat sambutan positif. Mata Garuda Sulbar, wadah alumni LPDP di Sulbar, menyatakan siap terlibat. Hal senada disampaikan Fatmawati dari PKBM Mamuju Tengah dan PAP Mamuju Tengah.
“Kami selama ini mencari mitra yang sevisi. Momentum ini jadi langkah baik untuk memulai gerakan mulia ini,” kata Fatmawati.
Kontribusi juga datang dari ruang digital. Yusril dari http://sipamandar.id menyatakan siap menggelorakan kampanye kembali bersekolah melalui konten edukasi di media sosial.
Rektor Institut Hasan Sulur, Dr. Hj. Agusnia Hasan Sulur, menilai faktor ekonomi dan lingkungan menjadi penyebab utama tingginya angka ATS. Menurutnya, pendekatan harus disesuaikan dengan tantangan generasi saat ini.
“Generasi sekarang tantangannya lebih kompleks. Pendekatannya harus berbeda. IHS siap berkontribusi, detailnya bisa kita diskusikan lebih lanjut,” ujarnya.
Dikbud Sulbar berharap kolaborasi ini menjadi modal sosial bersama agar ATS mendapat kesempatan kedua melanjutkan pendidikan.
—



